Dari Demi Waktu ke Doa: Netizen Sindir Dinasti Politik, Harapan Baru untuk Pasha Ungu
Font Terkecil
Font Terbesar
SENEKO NEWS ■ Anggota Komisi VIII DPR RI, Sigit Purnomo atau Pasha Ungu, hadir dirumah duka almarhum Affan Kurniawan, driver ojek online yang meninggal dunia usai kericuhan di DPR, kemarin.
Dengan wajah sendu dan suara bergetar, Pasha memimpin doa. Setiap ucapannya seperti mengalun menjadi lagu doa, mengingatkan publik pada bait-bait yang dulu viral dari band Ungu—lagu tentang kehilangan, harapan, dan cinta yang tak lekang. Bedanya, kali ini bukan panggung konser, melainkan duka rakyat yang nyata.
"Jarang pejabat yang mau hadir langsung. Kehadiran Pasha menunjukkan kemanusiaan yang tulus. Sosok begini yang pantas memimpin negeri," kata Darto, warga yang menyaksikan langsung di rumah duka.
Siti, pedagang warung dekat lokasi, juga tak kuasa menahan air mata.
"Dulu kami menangis karena lagu Ungu, sekarang menangis karena Pak Pasha benar-benar hadir di tengah luka rakyat. Kalau bicara 2029, saya rasa beliau layak maju sebagai calon presiden," katanya.
Di media sosial, nama Pasha langsung jadi perbincangan. Banyak netizen mengaitkan dirinya dengan lagu-lagu Ungu yang pernah jadi soundtrack kehidupan mereka.
"Bangsa ini butuh pemimpin dari rakyat, bukan dari dinasti politik. Tukang kayu aja bisa jadi presiden, kenapa bukan Pasha yang sudah nyanyikan Doa untuk kita semua?” tulis akun @dekpendi, komentar yang viral.
Momen itu menjelma simbol dari Demi Waktu di atas panggung musik, kini Pasha menulis bab baru di panggung politik.
Kehadirannya di rumah duka bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah lagu rakyat penuh luka, penuh harapan.(sa/by)