KH Anang Azharie: Kepemimpinan Polri Harus Berlandaskan Integritas dan Keadilan
Font Terkecil
Font Terbesar
SENEKO NEWS - Jakarta — Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Mizan Banten Indonesia, Dr. KH. Anang Azharie Alie, M.Pd., menegaskan bahwa kepemimpinan di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan keadilan. Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap kepemimpinan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto.
Dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (17/10/2026), KH. Anang menyampaikan bahwa jabatan publik bukan sekadar kedudukan atau kehormatan, melainkan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, bangsa, negara, dan Allah SWT.
Menurutnya, prinsip tersebut sejalan dengan ajaran Islam dalam Surah An-Nisa ayat 58 yang menekankan pentingnya menyerahkan amanah kepada pihak yang berhak serta menegakkan hukum secara adil.
“Jabatan bukan sekadar kehormatan, melainkan tanggung jawab besar yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada masyarakat maupun di hadapan Allah SWT. Karena itu, amanah harus dipegang oleh orang yang tepat dan dijalankan dengan penuh integritas,” ujar KH. Anang.
Ia menjelaskan bahwa memimpin institusi strategis seperti Polri membutuhkan kemampuan profesional yang didukung kejujuran, keberanian moral, serta kecakapan dalam mengelola organisasi. Kewenangan yang dimiliki seorang pemimpin, lanjutnya, harus digunakan untuk memastikan masyarakat memperoleh perlindungan, pelayanan, dan rasa keadilan.
KH. Anang juga menilai bahwa apresiasi terhadap kepemimpinan Polri perlu diiringi dengan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pelayanan publik dan penegakan hukum. Ia berharap seluruh jajaran Polri mampu menjalankan tugas secara profesional dan humanis, serta menegakkan hukum secara konsisten tanpa memandang latar belakang maupun kedudukan seseorang.
“Kompetensi harus berjalan bersama keadilan. Pemimpin tidak harus sempurna, tetapi harus memiliki orientasi yang benar, cakap dalam bertindak, adil dalam mengambil keputusan, dan terbuka terhadap evaluasi,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kelayakan seorang pemimpin perlu dinilai berdasarkan rekam jejak, integritas, kapasitas nyata, dan komitmen terhadap kepentingan umum. Kesediaan menerima kritik serta melakukan perbaikan, menurutnya, merupakan bagian penting dari tanggung jawab kepemimpinan.
Pandangan tersebut juga merujuk pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari mengenai peringatan terhadap penyerahan suatu urusan kepada orang yang tidak memiliki keahlian di bidangnya. Prinsip ini menjadi pengingat bahwa ketepatan dalam memberikan amanah turut menentukan keberhasilan organisasi dan manfaatnya bagi masyarakat.
“Ukuran keberhasilan jabatan bukan sekadar tingginya kedudukan, melainkan manfaat yang diberikan kepada masyarakat dan seberapa adil amanah itu ditunaikan,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, KH. Anang berharap Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto senantiasa menjadikan amanah, integritas, dan keadilan sebagai landasan dalam memimpin institusi Polri. Ia juga mengajak masyarakat untuk memberikan dukungan secara proporsional, disertai kritik yang konstruktif demi mendorong perbaikan dan peningkatan kualitas pelayanan kepolisian.
Ia menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa setiap jabatan membawa konsekuensi tanggung jawab yang harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh demi kepentingan bersama.
“Pada akhirnya, amanah bukan sekadar kehormatan untuk diterima, melainkan tanggung jawab untuk ditunaikan. Semoga setiap pemegang amanah diberikan kebijaksanaan dan keteguhan untuk menjalankan tugas demi kepentingan bangsa dan negara,” pungkasnya.

