BREAKING NEWS

Gagasan Pembangunan Berbasis Agromarin Mendapat Kritik Tajam Tokoh SBB


SENEKO NEWS | SBB — Gagasan pembangunan berbasis agromarin yang digaungkan di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku, menuai sorotan tajam dari sejumlah tokoh masyarakat. Di tengah klaim visi besar tersebut, publik justru menilai implementasinya belum menunjukkan arah yang jelas.

Tokoh masyarakat SBB, Gerard Wakano, menyampaikan kritik keras terhadap kepemimpinan daerah yang dinilai belum mampu menerjemahkan konsep agromarin ke dalam langkah konkret.

“Agromarin yang sering disuarakan seolah menjadi konsep besar, tetapi belum terlihat arah implementasinya secara nyata di lapangan,” ujar Wakano melalui pesan WhatsApp kepada awak media di Ambon.

Ia menilai, konsep yang seharusnya mengintegrasikan sektor pertanian dan kelautan itu masih sebatas wacana tanpa perencanaan teknis yang terukur. Menurutnya, kebingungan arah kebijakan berpotensi menghambat pembangunan daerah.

Di sisi lain, Wakano justru menyoroti langkah konkret yang dilakukan oleh warga lokal, Mansur Tuharea. Ia disebut berhasil menginisiasi pembangunan proyek irigasi bawah tanah untuk lahan seluas 40 hektare di Desa Hatusua.

Proyek tersebut, lanjut Wakano, memiliki nilai sekitar Rp6 miliar dan direncanakan mulai dikerjakan pada Juni 2025, setelah melalui proses pengajuan hingga mendapatkan dukungan hibah lahan.

“Ini contoh nyata bahwa masyarakat bisa bergerak dan menghadirkan solusi konkret, tanpa harus menunggu kebijakan yang belum jelas arahnya,” katanya.

Meski demikian, Wakano juga menyinggung dinamika internal kepemimpinan daerah. Ia menilai terdapat indikasi kuat adanya pengaruh pihak di luar struktur resmi pemerintahan dalam proses pengambilan keputusan.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mengganggu tata kelola pemerintahan yang sehat serta menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.

“Yang dibutuhkan bukan hanya pembangunan fisik seperti irigasi, tetapi juga perbaikan tata kelola dan kepemimpinan yang bersih dari intervensi tidak resmi,” tegasnya.

Wakano menambahkan, masyarakat SBB kini semakin kritis dalam menilai kinerja pemimpin. Ia mengingatkan bahwa publik akan lebih menghargai kerja nyata dibanding sekadar retorika visi pembangunan.

“Pada akhirnya, masyarakat akan menilai siapa yang benar-benar menghadirkan manfaat langsung. Bukan siapa yang paling sering berbicara,” pungkasnya.

Proyek irigasi di Desa Hatusua diharapkan menjadi salah satu langkah konkret dalam mendukung sektor pertanian lokal. Namun, dorongan perbaikan kepemimpinan dan kejelasan arah kebijakan dinilai tetap menjadi kunci utama bagi keberlanjutan pembangunan di Kabupaten SBB. (*by)